Hasil Survey Charta Politika, Menuai Ragam Tanggapan Netizen

Charta Politika

(Sumber foto: m.tribunnews.com / news.detik.com)

Survei Charta Politika yang melibatkan 400 responden diumumkan, hasilnya ternyata sebagian besar pemilih PDI-P, dan pemilih Gerindra di DKI Jakarta memilih Basuki Tjahaja Purnama “Ahok” untuk menjadi calon gubernur DKI Jakarta.

Dari 400 responden tersebut, pemilih PDI-P paling besar, yakni sebanyak 19,3 persen. Dari responden yang merupakan pemilih PDI-P itu, sebanyak 67,5 persen memilih Ahok kembali menjadi gubernur DKI Jakarta. Kader PDI-P yang digadang-gadang menyaingi Ahok yakni Tri Rismaharini hanya mendapat 14,3 persen. Sementara bakal cagub lainnya mendapat kurang dari lima persen seperti Yusril Ihza Mahendra (3,9 persen), Abraham Lunggana (2,6 persen), Hidayat Nur Wahid (1,3 persen). Sisanya, 10,4 persen tidak memilih atau tidak menjawab.

Hasil survei PDI-P tak jauh berbeda dengan Partai Gerindra. Sebagian besar pemilih Gerindra dalam survei ini juga memilih Ahok untuk menjadi gubernur DKI Jakarta. Dari 400 responden yang disurvei Charta Politika, 13 persen memilih Gerindra sebagai partai politik untuk menyalurkan aspirasinya.

Dari para pemilih Partai Gerindra itu, 51,9 persen justru memilih Ahok menjadi calon gubernur DKI Jakarta. Sisanya, 15,4 persen memilih Yusril Ihza Mahendra, 5,8 persen memilih Sadiaga Uno, 5,8 persen memilih Hidayat Nur Wahid, 3,8 persen memilih Adhyaksa Dault, 7,7 persen memilih calon lain, dan 5,8 persen tidak memilih atau tidak menjawab.

Pengumpulan data untuk survei itu dilakukan pada 15-20 Maret 2016 melalui wawancara tatap muka dengan menggunakan metode kuesioner terstruktur. Jumlah sampel sebanyak 400 responden yang tersebar di lima wilayah kota administrasi dan satu kepulauan di DKI Jakarta.

Survei ini dijalankan dengan menggunakan metode acak bertingkat dengan margin of error lebih kurang 4,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Survei ini dilakukan setelah Ahok mengumumkan bakal calon wakil gubernurnya, Heru Budi Hartono.

Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda PDI-P akan mengusung Ahok, namun Direktur Eksekutif Lembaga Survei Charta Politika mengungkapkan kemungkinan PDI-P mendukung Ahok masih terbuka lebar. “Ibu Megawati sampai saat ini belum bersuara. Jadi masih ada kemungkinan PDI-P mendukung Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta,” kata Yunarto di kantornya, Jakarta Selatan, Rabu (30/3/2016).

Pantauan redaksi eveline periode 30 – 31 Maret 2016 pada media sosial twitter, mendapati sebanyak 3.127 tweet oleh netizen menanggapi hasil survey yang digelar Charta Politika. Puncak perbincangan terjadi pada 30 Maret pukul 21.00 WIB sebanyak 887 tweet.

Sementara itu, beragam tanggapan dan komentar netizen terpantau tim redaksi eveline di twitter. Diantaranya seperti, @kompascom itu krn PDI-P blom umumkan pesaing ahok.. Kader PDI-P akan ikut apa yg dikatakan bu Mega”. Dikicaukan akun @jamal_nasution, nampak menyebutkan kader PDI-P akan ikut apa yang dikatakan Ibu Mega.

Selanjutnya, “Simpatisan Gerindra yang jadi sample Charta Politika ternyata 27 dari 52 orang tetep pilih BTP. Akan rapuh di 2019.. wkwkwk,” tulis akun @YimmyH. Sedang akun @DebbyMadova, menuliskan, @ChartaPolitika Hasil survei ini jauh lebih masuk akal ketimbang hasil surveinya si Emrus yg dibangga2in sama wanita emas tempo hari… Thx.” Nampak menyebutkan bahwa hasil survey Charta Politika menurutnya lebih baik.

Lebih jauh, seorang netizen dengan akun @sonytan_ nampak menyebutkan apa reaksi para Haters Ahok, “Survei twitter: Ahok anjlok -> Haters puas. Survei @ChartaPolitika: Ahok unggul -> Haters lemas. Seperti onani.. puas setelah itu lemas :)”.

Namun demikian, Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya sempat memberikan penilaian bahwa Risma lebih justru lebih berpotensi untuk jadi pesaing Ahok dibanding Yusril. Sebab Yunarto menganalisa, Risma punya personal branding yang cukup baik. Jika Risma maju Pilgub DKI, kekuatan PDIP sebagai pengusung juga tak bisa dianggap enteng.

“Ketika Risma maju dan didukung PDIP bukan tidak mungkin Risma bisa jadi pesaing Ahok. Lebih berpotensi dibandingkan Yusril, karena faktor partai dan track record lebih memihak Risma,” kata Yunarto kepada wartawan usai paparan hasil survei politik di kantor Charta Politika, Jl Cisanggira, Jakarta Selatan, Rabu (30/3/2016).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Send this to friend