KOKAM Sebut Sikap Kapoltabes Semarang Berbahaya Bagi NKRI, Netizen: Nonaktifkan!

kapoltabes semarang

(Sumber foto: posmetro.info/metrotvnews.com)

Komandan Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) Jawa tengah (Jateng), Muhammad Ismail, risih dengan sikap Kapoltabes Semarang, Abiyoso Seno Aji. Abiyoso melontarkan pernyataan provokatif, menyusul rencana aksi ormas FUIS (Forum Umat Islam Semarang) pada Sabtu 21 Juli 2017, terkait penolakan Perppu Ormas.

“Dari kelompok yang mau demo, silakan keluarkan senjata api dari gudangnya. Kalau mereka nekat, berarti akan terjadi pertumpahan apa yang harus ditumpahkan di sepanjang Jalan Pahlawan ini,” tegas Abiyoso.

Menanggapi pernyataan tersebut, Ismail menilai Abiyoso tidak memahami Undang-undang dasar Negara. Dia meminta Kapoltabes, diungsikan ke pelosok terpencil. “Kapolres yang tidak memahami UUD 45. Seharusnya dia dipindah ke Polres terpencil,” ujar Ismail pada Panjimas.com, Senin (24/7/2017).

Ismail mengungkapkan bahwa demo diatur Undang-undang. Tugas Polisi hanya mengamankan, tidak perlu bersikap arogan dan memprovokasi masyarakat. “Bukankah bersarekat, berkumpul dan mengutarakan pendapat itu dibolehkan. Pejabat yang melarang, mending disuruh menghafal 36 butir-butir Pancasila lagi,” tandasnya.

(baca juga: Ancam Pendemo Tolak Perppu, Pengamat: Polrestabes Semarang Menyalahgunakan Kekuasaan)

Lebih lanjut, Ismail menegaskan Polisi yang bersikap seperti itu sangat tidak cakap dan akan membahayakan Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Ini baru jadi Kapoltabes sudah bersikap seperti itu, nanti jika jadi Kapolri akan sangat berbahaya bagi NKRI,” cetusnya.

Pantauan redaksi eveline, mendapati komentar netizen terkait KOKAM sebut sikap Kapoltabes Semarang Berbahaya Bagi NKRI. “Turun pangkat ke bripda & mutasi k prbatasan. Atau brsih2 & ngepel masjid agung Sematang slama 1 tahun”, tulis netizen dengan akun @SEdy5ma sampaikan sindiran. Netizen lain bernama Sangresi Purba bahkan menyebut sikap Kapoltabes membuatnya layak untuk di nonaktifkan, “Kalau dr pernyataannya, daerah terpencilpun malah sama sekali tidak layak, yg bener hrs dinonaktifkan dari jabatannya”.

Hingga seorang netizen bernama Chairuddin Bahdar berpendapat, perlunya pendidikan akhlak agar menjadi pemimpin tidak arogan, “Mestix level kapolsek apalagi kapolres,hrsx tahu bahasa yg normatif,bhs bijak,mestix sblm jadi pemimpn itu tdk arogan,belajar retorika n estetika, pengendalian diri bkn sekedar bahasa tapi hrs teruji pengendalian diri itu didunia xta, semestix perinrth (diknas atau P dan K) mencanangkn kembali pelajaran AKHLAK DAN BUDI PEKERTI utk penddkn dasar dan menengah, agar pd saat dewasa bisa benar2 menjadi manusia yg budi mulia, panutan dan handal bagai manusia Indonesia yg seutuhx( Bermental pejuang kemerdekaan tanpa pamrih,n berakhlak mulia, Ahlakul kariimah”.

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Send this to friend