Membaca Jejak Digital Polemik Nenek Hindun

Membaca Jejak Digital Polemik Nenek Hindun

Foto: liputan6 / infomenia

Hampir sepekan, netizen diramaikan oleh perbincangan tentang pengurusan jenazah Hindun binti Raisman (78). Nenek Hindun tinggal di Jl. Karet Karya 2, RT 009 RW 02, Karet Setiabudi, Jakarta Selatan, ini tak bisa dishalatkan di mushalla sekitar tempat tinggalnya.

Penyebabnya hanya karena almarhumah mencoblos pasangan Ahok- Djarot pada pemungutan suara Pilkada DKI Jakarta 15 Februari lalu.

Menanggapi polemik ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta mengimbau agar semua pihak tidak melakukan politisasi agama menghadapi Pilkada DKI Jakarta 2017 putaran kedua.

Sekretaris Umum MUI DKI Jakarta, KH Zulfa Mustofa mengatakan politisasi agama itu misalnya larangan menshalati jenazah pendukung pasangan calon (paslon) tertentu atau sebaliknya menjadikan isu tersebut sebagai alat serang kubu paslon lain agar mendapatkan citra intoleran dan meraih simpati.

Sejalan dengan pendapat MUI DKI Jakarta, peneliti dan analis senior evello, Azis Subekti berpendapat bahwa politisasi terhadap kasus ini sangat tidak sehat. Pendapat Azis tersebut didasarkan pada jejak digital kasus nenek Hindun melalui jejaring percakapan.

Jejak Digital Percakapan Nenek Hindun

Berdasarkan analisa terhadap jejaring percakapan di twitter periode 8-10 Maret 2017, Azis menyimpulkan bahwa politisasi terhadap kasus ini terbukti. Ia menyebutkan bahwa sebagian besar percakapan nenek Hindun yang mendapatkan penolakan untuk dishalati justru banyak datang dari pendukung paslon Ahok-Djarot.

“Ada kesan bahwa kejadian ini ditimpakan sebagai kesalahan paslon Anies Baswedan. Artinya gerakan untuk tidak mengurus jenazah pendukung Ahok-Djarot adalah pendukung dari Anies-Sandi. Sebagai contoh, pada jejaring terlihat nama akun @yunartowijaya ikut berkicau tentang hal ini. Jika diperhatikan, isi kicauan akun tersebut mengarah sebagai kesalahan Anies Baswedan” papar Azis.

Azis juga melanjutkan bahwa pola yang sama juga dikicaukan akun-akun lainnya. “Jika diperhatikan pada jejaring percakapan terdapat akun @sahal_AS. Isi kicauannya pun kurang lebih sama, mengarah bahwa kasus nenek Hindun adalah bagian dari perbuatan pendukung kubu Anies Baswedan”.

Jika diperhatikan pada jejaring percakapan terdapat akun @iyutVB yang berusaha untuk memberikan klarifikasi terhadap kejadian tersebut. “Tetapi dikarenakan kecilnya dukungan dari akun-akun yang lainnya, akun @iyutVB berada di luar lingkaran percakapan” terang Azis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*