Penggusuran Rumah Warga di Bukit Duri Menuai Beragam Komentar Netizen

Digusurnya Rumah Warga di Bukit Duri Menuai Beragam Komentar Netizen

Rumah warga di RW 10 sepanjang Sungai Ciliwung, Bukit Duri, Selasa (12/1) pagi tadi digusur. Rumah-rumah itu dirobohkan untuk normalisasi Sungai Ciliwung guna menghalau banjir musiman. Total sekitar 97 rumah digusur tadi pagi. Sebagian besar warga telah bersedia direlokasi ke rusunawa Cibesel dan Pulogebang. Warga beranggapan penggusuran yang bertujuan untuk normalisasi Sungai Ciliwung tersebut merupakan langkah yang bagus. Namun, warga mengeluhkan sikap Gubernur Ahok yang mengedepankan kekerasan.

Sempat terjadi insiden keributan antara perwakilan LBH Jakarta dan Satpol PP. Pengabdi LBH Jakarta yang mendampingin warga Bukit Duri, Alldo Fellix Januardy mengaku menerima kekerasan dari Satpol PP saat penggusuran berlangsung. Aldo menjelaskan, pihaknya sudah mengajukan gugatan tanggal 5 Januari dan menjadwalkan audiensi Bukit Duri dengan DPRD DKI. Namun, pagi-pagi sekali, Satpol PP tetap melakukan pembongkaran.

Menurut Alldo, tak boleh ada penggusuran sebelum keluarnya putusan pengadilan. Saat akan menjelaskan hal itu, Alldo mengaku langsung ditarik oleh Satpol PP dan polisi. Dalam sekejap dia menerima pukulan dan sempat diseret oleh lima orang petugas. Terlihat, pelipis dan pipi Alldo mengalami luka memar.

Ya memang, Gubernur Ahok memutuskan mengambil langkah penggusuran sebelum keluarnya putusan pengadilan. Ahok mengaku sudah 3 kali mengirim surat peringatan kepada warga Bukit Duri. Lanjutnya, ia menganggap warga sudah salah karena menempati tanah yang bukan miliknya alis tanah negara.

Pantauan redaksi Eveline selama periode 11-12 Januari 2016 pada media sosial twitter, mendapati sebanyak 3.741 tweet perbincangan tentang Penggusuran rumah warga di Bukit Duri. Puncak perbincangan terjadi pada pukul 11.00 WIB dengan jumlah kicauan mencapai 1.210 tweet.

Ragam komentar pun bermunculan menanggapi penggusuran rumah warga di Bukit Duri. “Kalau sudah puluhan tahun hidup di tanah Bukit Duri tanpa legalitas, penguasa juga punya andil salah, kenapa dulu-dulu dibiarkan.”, cuit @AlissaWahid. “Mengkritik cara penanganan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam penanganan Bukit Duri tidak sama dengan membenci Ahok. “, ungkap akun @arman_dhani. Perbincangan tentang penggusuran rumah warga di Bukit Duri paling banyak dikicaukan oleh pengguna twitter asal Jakarta dengan total 2.383 tweet.

Meski sudah direlokasi ke rusunawa, tetap muncul pro dan kontra di masyarakat. Ada yang bersyukur sudah mendapat rumah yang lebih layak dan tidak perlu memikirkan banjir lagi. Namun, ada juga yang bingung harus membayar sewa rusunawa karena tidak mempunyai pekerjaan tetap. Warga yang dipindahkan di rusunawa tersebut dipatok harga sewa Rp 150.000,- hingga Rp 250.000,-.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *