Polisi Ciduk Mucikari Online, Netizen Kembali Resah Soal Prostitusi

Mucikari Online Ditangkap Polisi – sumber foto: Istimewa

Setelah sebelumnya publik dikejutkan dengan maraknya prostutusi online saat seorang pekerja seks komersial bernama Deuhdeuh Alfi Sahrin ditemukan tewas di kamar kost kawasan Tebet Jakarta Selatan, kini kabar serupa kembali menyeruak. Seorang pria bernama Mike yang sehari-hari berprofesi sebagai mucikari ditangkap polisi saat mengantarkan PSK anak buahnya kepada pelanggan di kawasan Menteng Jakarta Pusat.

Pria berusia 30 tahun ini memasarkan para ‘angel’, sebutan untuk PSK anak buahnya, melalui media sosial Twitter. Serupa dengan Deudeuh Alfi, Mike menggunakan akun twitter @TemanJakarta untuk menjaring para lelaki hidung belang. Lewat akun twitter yang mempunyai follower lebih dari 33 ribu orang ini, Mike rajin mempromosikan ‘dagangannya’ lewat cuitan maupun foto-foto seksi para angel.

Sebelum bisa memesan angel, pelanggan harus terlebih dulu mentransfer dana sebesar 500 ribu rupiah, untuk kemudian mendapatkan pin BBM pelaku. Lewat fasilitas instant messaging inilah Mike yang berdomisili di Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara kemudian menunjukkan foto-foto anak buahnya untuk dipilih para pelanggan. Jika cocok, transaksi pun berlangsung.

Tarif yang dipatok pria yang biasa dipanggil Papi ini antara 1 – 2 juta rupiah sekali kencan untuk durasi 1 jam. Anak buah Mike berjumlah lebih dari 30 orang dengan latar belakang profesi beragam, mulai dari mahasiswa, pekerja kantoran, pekerja lepas dan lain sebagainya. Konsumen Mike tidak terbatas di Jakarta, karena ternyata dia melayani konsumennya hingga berbagai kota, seperti Bandung Surabaya, Jogja dan Semarang.

Fenomena prostitusi, khususnya lewat media online sepertinya sudah sangat meresahkan. Kasus Deudeuh dan Papi Mike hanyalah puncak gunung es bisnis gelap yang satu ini. Tidak gampang memberantasnya, sebagaimana diakui Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Ahok mengaku dirinya kesulitan mencegah praktek prostitusi, khususnya yang dilakukan di tempat-tempat kost. Dirinya mengaku sudah menghimbau para perangkat birokrasi dan warga di masing-masing wilayah untuk saling mengawasi.

Bagaimana publik menanggapi tertangkapnya mucikari yang berjualan di media sosial Twitter ini? Dan bagaimana pula tanggapan netizen atas semakin maraknya prostitusi online? Berikut redaksi Eveline merangkumnya untuk Anda.

Pemantauan dilakukan terhadap perbincangan di media sosial, khususnya Twitter, selama periode 20 -25 April 2015. Di mana terdapat total 16.953 tweet dari netizen yang menyuarakan keresahannya atas semakin maraknya praktek prostitusi online. Dari jumlah tersebut, 2.255 tweet bicara banyaknya pelaku prostitusi yang menggunakan Twitter untuk memasarkan jasanya.

Sementara, kabar tertangkapnya mucikari prostitusi online Mike mendapat perhatian publik sebesar 4.305 tweet. Publik menyampaian apresiasi terhadap pihak kepolisian yang membongkar praktek yang dijalani Mike ini. Sebanyak 450 tweet menyatakan bahwa modus operandi prostitusi lewat media online meresahkan mereka. Netizen juga menyebut dalam 405 tweet, salah satu penyebab maraknya prostitusi online adalah perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin konsumtif.

Yang paling patut mendapat perhatian menurut netizen adalah, semakin banyaknya anak usia sekolah yang terjerumus ke dalam lingkaran setan bisnis prostitusi. Dan keberadaan internet semakin memperparah kondisi ini. Hal tersebut disampaikan netizen melalui 1.031 tweet.

***

One thought on “Polisi Ciduk Mucikari Online, Netizen Kembali Resah Soal Prostitusi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Send this to friend