Surat Anas untuk SBY Ramai Menuai Tanggapan Netizen

Foto: Ilustrasi

“Biar terang benderang Dibuka saja. Ada apa sebenarnya…” demikian komentar pengguna facebook bernama Steve Warokka. Tanggapan tersebut disampaikan berkaitan dengan surat terbuka mantan ketua umum partai Demokrat, Anas Urbaningrum.

Anas Urbaningrum membantah adanya pertemuan di L‎embaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, untuk menyeret Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam kasus korupsi proyek pengadaan e-KTP.

Bantahan ini disampaikan Anas melalui sebuah surat yang disebarkan dalam akun Twitter resminya @anasurbaningrum pada 10 Februari 2018.

Surat tersebut sengaja disebarkan oleh kerabat Anas saat mengujungi Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat. Dalam surat tersebut tertulis jelas nama Anas dan dibubuhi tanda tangan. Tertulis surat tersebut dibuat pada 10 Februari 2018 menggunakan sebuah kertas dengan tulisan tangan.

Kolega Anas, Tridianto, membenarkan bahwa surat yang tersebar di media sosial tersebut merupakan hasil buah tangan terpidana perkara korupsi dan pencucian uang proyek Pembangunan Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) Hambalang tersebut.

Dalam surat tersebut, Anas menegaskan tidak ada pertemuan di Lapas Sukamiskin antara dirinya, Firman Wijaya, dan mantan anggota Partai Demokrat Mirwan Amir dan Saan Mustofa. Bahkan, Anas mengaku tidak pernah terpikir untuk menggelar pertemuan tersebut. Berikut isi lengkap surat Anas yang tersebar melalui media sosial twitter.

1. Awalnya saya geli dengar cerita ada tuduhan pertemuan di Sukamiskin untuk merancang fitnah kepada Pak SBY dan Mas Ibas.

2. Tetapi karena menjadi berita luas, dagelan itu perlu diluruskan, karena bisa menyesatkan.

3. Jelas bahwa tidak pernah ada pertemuan di Sukamiskin yang dihadiri oleh Anas Urbaningrum, Firman Wijaya, Mirwan Amir, dan Saan Mustofa.

4. Terpikir untuk bikin pertemuan saja tidak pernah, tidak ada hujan besok tiba-tiba ada banjir hoax.

5. ‎Itu cerita hoax berasal dari surat hoax yang entah dibikin oleh siapa. Tapi jelas disebarkan oleh siapa saja.

6. Mudah banget untuk membuktikan pertemuan itu fakta atau hoax. Ada CCTV, buku tamu, dan banyak warga yang bisa ditanya.

7. Hoax kok dipercaya dan disebarkan. Lalu kemana kampanye anti hoax dan fitnah yang belum lama dideklarasikan.

8. Hoax juga disebarkan hampir bersamaan dengan narasi jihad untuk keadilan. Ada kontradiksi yang nyata di antara keduanya.

9. Citra kekuasaan, ketenaran dan kekayaan boleh dicapai. Tapi caranya tidak mesti dengan menista orang lain dengan hoax dan tuduhan konspirasi fitnah.

10. Keadilan mesti diperjuangkan dengan cara-cara yang sejalan dengan makna keadilan itu sendiri.

Menanggapi surat tersebut, netizen berpendapat bahwa ketua umum partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mencari sensasi. Hal tersebut disampaikan akun facebook Zuhairi Aswin.

“Siapa bisa nebak sensasi si tuan tua selanjutnya, apakah ada sinetron berkelanjutan,,,” 

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Send this to friend