Trump: Kita Harus Usir “Setan” Dari Amerika

Aksi Tolak Trump Bertajuk "Women on The March" Berlangsung di Berbagai Kota Besar Dunia

Foto: Istimewa

Ribuan pemrotes turun ke jalan-jalan di Washington pada Sabtu (4/2) untuk menentang perintah eksekutif Presiden AS Donald Trump. Trump menandatangani perintah eksekutif pada 27 Januari, yang melarang warga dari tujuh negara dengan mayoritas warganya orang Muslim melakukan perjalanan ke AS selama 90 hari, berhenti menerima pengungsi selama 120 hari dan tanpa batas waktu mencegah pengungsi dari Suriah, guna “melindungi keamanan AS”.

Dikutip dari Antara, pemrotes, yang kebanyakan anak muda, mulai berkumpul di luar Gedung Putih sekitar pukul 13.00 waktu setempat, dan berjalan menuju Kongres di sepanjang Pennsylvania Avenue pada sekitar pukul 14.20 waktu setempat.

Pemrotes meneriakkan “imigran disambut baik di sini, tak ada kebencian, tak ada rasa takut” dan “ini lah yang membuat Amerika besar, mencintai dan tidak membenci”, saat mereka berpawai di pusat kota Washington.

Dalam perkembangannyaa, Departemen Luar Negeri AS pada Sabtu mengubah pembatalan visa buat orang asing berdasarkan larangan perjalanan yang dibekukan pada Jumat (3/2) oleh seorang hakim federal.

Departemen tersebut mengatakan orang asing yang termasuk di dalam larangan perjalanan itu dan memegang visa sah sekarang bisa pergi ke Amerika Serikat.

Trump sendiri meyakini bahwa kebijakan yang dibuat bertujuan untuk melindungi negaranya. Ia menyebutkan negara harus dapat mengambil kebijakan apapun demi keamanan negara.

Keyakinan Donald Trump memang menimbulkan serangkaian protes netizen. Tak menunggu waktu lala, kicauan Donald Trump pun diserbu oleh protes netizen.

Sebelumnya Trump bahkan berkicau cukup keras untuk menjaga Amerika Serikat dari “setan”.

Kicauan Trump kali ini menuai protes netizen seluruh dunia. Seorang netizen bahkan menyebutkan bahwa “setan” yang dimaksud oleh Trump adalah ketakutannya sendiri.

Sebanyak 60.000 visa buat warga negara dari tujuh negara dengan mayoritas warga adalah Muslim dan tercakup oleh larangan 90-hari, termasuk Irak, Iran, Suriah, Yaman, Libya, Sudan dan Somalia, untuk “sementara dicabut” berdasarkan larangan perjalanan Januari, yang memicu protes dan kecaman di seluruh dunia.

Masih pada Sabtu, Departemen Keamanan Dalam Negeri AS mengatakan Departemen tersebut telah membekukan semua tindakan untuk melaksanakan larangan perjalanan sejalan dengan putusan hakim federal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Send this to friend