Akibat Kabut Asap Singapura Boikot Produk Indonesia, Netizen Sebut Tak Pengaruh

Singapura Boikot Produk Indonesia – sumber foto: Istimewa

Bencana kabut asap yang berlarut-larut tak hanya dirasakan akibatnya di tanah air, namun juga di negeri tetangga, khususnya Malaysia, Singapura dan terakhir merambah ke Thailand. Pemerintah Singapura dan Malaysia beberapa kali melayangkan protes terhadap pemerintah Indonesia. Mereka menilai Indonesia tidak serius menangani persoalan kabut asap ini.

Di kedua negara jiran tersebut, efek kabut asap paling dirasakan mengganggu aktifitas kehidupan sehari-hari. Kegiatan bisnis dan pendidikan terimbas langsung olehnya. Banyak sekolah meliburkan siswanya di Singapura dan Malaysia. Bisnis pariwisata yang menjadi andalan Singapura pun terimbas dengan keluhan wisatawan akibat kabut asap.

Sebagai bentuk protes atas kabut asap, jaringan supermaret terbesar di Singapura NTUC FairPrice, menarik produk tisu dan kertas asal Indonesia. Langkah ini diambil setelah Singapore Environment Council (SEC) menarik sertifikasi hijau untuk perusahaan asal Indonesia, Asia Pulp & Paper, perusahaan milik Grup Sinarmas. Mereka dinilai turut bertanggungjawab dalam kebakaran hutan yang menyebabkan kabut asap.

Boikot produk tisu dan kertas asal Indonesia menimbulkan kekhawatiran pengusaha mebel yang juga berbahan dasar kayu. Ketua Dewan Pertimbangan Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI), Soenoto menilai pencabutan sertifikasi dan penarikan produk tersebut bisa berimbas kepada produk mebel tanah air.

“Tentu saja kemungkinan bisa ada imbasnya, tapi kan harus diberikan penjelasan terhadap produk yang diekspor,” ujar Soenoto sebagaimana dikutip dari Kompas.com

Menanggapi boikot produk Indonesia di Singapura, pemerintah melalui Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi menyatakan pihaknya tidak akan tinggal diam. Retno menyebut Kemenlu menjalin komunikasi secara intens baik dengan pihak Singapura maupun produsen produk yang diboikot.

“Apa yang dilakukan Singapura adalah dasar hukum di Singapura tentang masalah polusi. Walau demikian, kami lakukan komunikasi dengan Singapura tentang masalah ini,” papar Retno sebagaimana dikutip dari Kompas.com

Bagaimana tanggapan publik, khususnya netizen Indonesia atas tindakan Singapura boikot produk Indonesia? Simak pantauan redaksi Eveline berikut.

Pemantauan dilakukan terhadap perbincangan di media sosial, khususnya Twitter selama periode 20 Oktober 2015. Pemantauan dilakukan menggunakan platform Evello Intelligent Tagging System. Sebanyak 1.357 tweet membicarakan tentang langkah Singapura boikot produk Indonesia. Netizen menyebut produk yang ditarik dari pasaran adalah produk berbahan kayu dari perusahaan yang dianggap terlibat pembakaran hutan penyebab kabut asap.

Netizen menyebut, langkah Singapura boikot produk Indonesia terkait dengan bencana kabut asap. Melalui 834 tweet, netizen menyebut perusahaan produsen produk tisu dan kertas disebut terlibat pembakaran hutan penyebab kabut asap.

Netizen yang geram dengan pemboikotan ini menyebut tindakan Singapura tidak akan berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia. Hal ini ditegaskan lewat 221 tweet. Lebih lanjut, netizen tersebut justru mendesak pemerintah Indonesia bertindak tegas dengan balas memboikot produk Singapura. Hal ini diungkapkan netizen lewat cuitan sebanyak 124 tweet.

***

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Send this to friend