Harga Kedelai Naik, Netizen Sebut Kasihan Pengrajin Tahu Tempe

Harga Kedelai Naik Pengrajin Tahu Tempe Terimbas – sumber foto: Istimewa

Dampak jatuhnya nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat yang dipicu jebloknya pasar saham China, atau yang sering disebut black Monday, semakin terasa akibatnya di masyarakat. Harga barang kebutuhan pokok terus melonjak, salah satunya tahu dan tempe. Kedua panganan lokal khas Indonesia ini mulai naik harganya di pasaran lantaran harga bahan baku kedelai pembuatnya yang juga merangkak naik.

Hal ini bisa dimaklumi karena sebagian besar tahu dan tempe Indonesia diproduksi menggunakan bahan baku kedelai kedelai impor, sebagian besar dari Amerika Serikat. Saat nilai tukar rupiah jeblok, begitu pula jebloknya nasib para perajin tahu tempe. Sebagai contoh, di Sleman Yogyakarta, harga kedelai sudah naik Rp500 per kg, dari sebelumnya Rp7.300 menjadi Rp7.800. Sementara di Brebes, Jawa Tengah kedelai naik dari Rp6.500 menjadi Rp8.000 per kilogram. Selain soal mahalnya harga kedelai impor, pengrajin juga mengeluhkan susahnya mendapatkan stok kedelai lokal.

Akibatnya, pengarjin tahu tempe harus berpikir ekstra keras untuk tetap bisa bertahan. Sebagian terpaksa menaikkan harga jual produknya, sementara yang lain memilih tidak menaikkan harga namun memperkecil ukuran produk tahu tempe atau jumlap produksi.

Bagaimana tanggapan publik, khususnya netizen Indonesia atas kenaikan harga kedelai yang bahan baku tahu tempe? Simak pantauan redaksi Eveline berikut.

Pemantauan dilakukan terhadap perbincangan di media sosial, khususnya Twitter selama periode 25 Р26 Agustus 2015. Pemantauan dilakukan menggunakan platform Evello Intelligent Tagging System. Terdapat 1.120 tweet yang membicarakan tentang kenaikan harga kedelai yang bahan baku tahu tempe. Sebagian besar netizen menyebut mereka merasa kasihan dengan nasib para pengrajin tahu tempe yang semakin terbebani dengan hal ini.

Mereka menyebut para pengrajin semain resah dengan naiknya harga kedelai, karena mereka harus menaikkan harga jual produk tahu tempe. Hal ini diungkapkan netizen sebanyak 358 tweet. Sementara, lewat 358 tweet menyebut para pengrajin banyak yang terpaksa memperkecil ukuran tahu tempe yang diproduksi supaya tidak harus menaikkan harga jual. Menurut netizen hal ini merugikan konsumen.

Netizen juga mempertanyakan kebijakan pangan dan pertanian dari pemerintah. Di mana sekarang kedelai lokal belum mampu menutup kebutuhan produksi pengrajin tahu tempe sementara kedelai impor rawan terimbas fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dollar. Hal ini disebut netizen lewat 271 tweet.

***

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Send this to friend