Jelang Puasa Netizen Desak Pemerintah Kendalikan Harga Sembako

Kenaikan harga sembako jelang puasa – sumber foto: Istimewa

Jelang bulan puasa yang tinggal 6 hari lagi, harga barang kebutuhan pokok mulai merangkak naik. Barang kebutuhan pokok, atau umum disebut sembako (sembilan bahan pokok), menurut Keputusan Menteri Industri dan Perdagangan no. 115/MPP/Kep/2/1998 terdiri dari: beras (termasuk sagu dan jagung), gula pasir, sayur dan buah, daging sapi (termasuk ayam dan ikan), minyak goreng dan margarin, susu, telur, minyak tanah dan gas elpiji, garam.

Setiap tahun pula, khususnya jelang bulan ramadhan, harga sembako selalu naik dibanding hari biasa. Ada yang menyebut hal ini karena kenaikan permintaan konsumen, namun banyak pula yang menuding adanya permainan para pedagang, khususnya importir dan pengusaha besar guna meraih keuntungan besar memanfaatkan momen bulan suci ini.

Tahun 2015 kali ini pun tak kalah beda. Pemantauan di berbagai kota di Indonesia menunjukkan kenaikan harga sembako. Di Jakarta, pemantauan di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur menunjukkan harga sembako sudah naik rata-rata 5% mulai minggu ini. Sembako yang mulai naik antara lain cabai, bawang merah, daging ayam dan sapi. Sementara, harga beras di Pasar Induk relatif masih tetap.

Kenaikan harga bahan pokok ini dibenarkan oleh Menteri Perdagangan Rachmat Gobel. Menurutnya, ada 5 jenis sembako yang harganya naik, yaitu daging ayam ras, cabai merah keriting, telur ayam ras, gula pasir dan kedelai lokal. Namun, Gobel menyebut bahwa dirinya sudah mendapat jaminan dari Kementerian Pertanian dan asosiasi akan ada pasokan dari potensi panen, sehingga diharapkan harga dalam satu minggu ke depan akan turun.

Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla menyebut kenaikan harga sejumlah bahan pangan pokok saat menjelang bulan puasa dan Lebaran adalah lazim terjadi. JK bercanda dengan menyatakan kenaikan harga itu juga dapat dianggap sebagai “hadiah Lebaran” bagi para petani, yang dinilai mendapatkan penghasilan lebih karena kenaikan harga tersebut. Meski demikian, Wapres menegaskan, semua kebutuhan sehari-hari yang jumlahnya bisa dipenuhi oleh dalam negeri tidak akan diimpor.

Bagaimana tanggapan publik, khususnya netizen Indonesia atas mulai naiknya harga barang-barang kebutuhan pokok, alias sembako jelang bulan puasa ini? Simak pantauan redaksi Eveline berikut.

Pemantauan dilakukan terhadap perbincangan di media sosial, khususnya Twitter selama periode 10 – 12 Juni 2015. Pemantauan dilakukan menggunakan platform Evello Intelligent Tagging System. Di mana terdapat total 6.980 tweet memperbincangkan kenaikan harga berbagai barang kebutuhan pokok jelang bulan puasa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.819 menyampaikan keluhan atas kenaikan harga sembako ini. Menurut netizen, meskipun sudah rutin terjadi setiap tahun, namun tetap saja kenaikan harga membebani masyarakat.

Netizen yang merasakan kenaikan harga menuntut pemerintah untuk segera bertindak guna mengendalikan kenaikan harga tersebut. Lewat 1.615 tweet netizen meminta supaya pemerintah memastikan bahwa kenaikan harga sembako tidak semakin tinggi saat puasa dan lebaran tahun ini. Sementara itu, pemerintah yang mengklaim bisa mengendalikan harga sembako mendapat sorotan netizen lewat 1.385 tweet.

Yang cukup menarik adalah, adanya 690 tweet yang dicuitkan netizen yang menyebut pemerintah gagal mengendalikan harga. Mereka menuding adanya para mafia yang sengaja membuat harga-harga naik saat puasa dan lebaran untuk meraih keuntungan.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Send this to friend