Kebijakan Ekonomi Di Bawah Jokowi Dinilai Lebih Parah Dari Orba, Netizen Sampaikan Keluh Kesah

ekonomi

(Sumber foto: akun twitter @WaOne2018/posmetro.info)

Pengamat ekonomi politik dari AEPI, Salamuddin Daeng menyebut, kondisi Indonesia sepanjang tahun 2016 berhadapan dengan situasi ketimpangan ekonomi, keuangan dan ketimpangan pendapatan yang meningkat.

Kondisi ini disebabkan oleh berbagai kebijakan ekonomi dan politik Indonesia yang terfokus pada upaya mengejar pertumbuhan, tapi hanya bertumpu pada pengembangan mega proyek infrastruktur. “Sehingga, garis kebijakan pemerintah telah memicu konsentrasi sumber-sumber ekonomi seperti tanah, keuangan dan pendapatan pada sekelompok kecil orang saja,” cetus dia kepada Aktual.com, Rabu (15/3).

Bahkan, kata dia, ketimpangan pendapatan dan kekayaan berlangsung secara cepat. Baru-baru ini, Oxfam International merilis bahwa ketimpangan kekayaan di Indonesia adalah salah satu yang terburuk di dunia. Karena kekayaan empat orang di negeri ini setara dengan 100 juta penduduk.  “Ini adalah sebuah kondisi yang sangat ekstrim tidak hanya akan memiliki implikasi ekonomi akan tetapi juga politik dan keamanan. Dan ketimpangan extrim ini tak pernah terjadi pada era sebelumnya,” cetus dia.

Menurut dia, di zaman Orde Baru malah lebih baik, karena masih ada strategi trickle down effect atau efek menetrs ke bawah. Waktu itu, strategi yang menuai kecaman karena dianggap penghinaan terhadap kemanusiaan. Bagaimana mungkin ratusan juta rakyat hanya mendapatkan tetesan dari kemakmuran?

Namun ternyata, kata dia, sejak era reformasi, terutama saat ini, yang konon dianggap sebagai anti tesa terhadap kebijakan pemerintahan Soeharto, ternyata ketimpangan ekonomi kian menjadi-jadi. Bahkan tetesan ke bawah pun sudah tertutup. “Sebagian besar kekayaan negara, seperti tanah, keuangan dan pendapatan, terkonsentrasi dan mengalir ke atas. Itu kemana? yakni ke tangan asing dan segelintir taipan dan terus berputar di lingkungan mereka sendiri,” tegas Daeng.

Pantauan redaksi eveline, mendapati komentar netizen terkait pengamat sebut kebijakan ekonomi di bawah Jokowi lebih parah dari Orba. “gak kuat bayar listrik , buat kulkas , lampu ,pulsa listrik 20 ribu cuma utk 3 hari, akhirnya kulkas saya jual, kos blm bayar”, dikicaukan akun @WaOne2018.

Tak kurang sebuah sindiran turut disampaikan netizen bernama Marwoto Saputro, “Bagaimana tidak semakin timpang kesenjangan ekonomi lha kambingnya pak jokowi juga minta jatah. he he he“.

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*