Netizen Kritik Kebijakan Penyatuan Golongan Tarif Listrik PLN

Nias

Foto: Istimewa

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana menyatukan golongan tarif dasar listrik (TDL) PLN untuk kategori rumah tangga (R-1) nonsubsidi. Daya pada empat golongan, yaitu 900 Volt Ampere (VA) nobsubsidi, 1.300 VA, 2.200 VA, dan 3.300 VA akan dinaikkan dan ditambah menjadi 4.400 VA.

Untuk daya golongan 4.400 VA hingga 12.600 VA dinaikkan dan ditambah menjadi 13 ribu VA. Sementara daya golongan 13 ribu VA ke atas akan di-loss stroom (dibebaskan). Loss stroom berarti tak ada batasan daya sehingga konsumen bisa menggunakan listrik sebanyak yang dibutuhkan.

Rencana penyatuan golongan TDL PLN untuk kategori rumah tangga (R-1) nonsubsidi disampaikan Menteri ESDM Ignasius Jonan pada Selasa (7/11). Ketika itu, dia menyampaikan tiga golongan pelanggan, yaitu 900 VA, 1.300 VA, dan 2.200 VA akan dihapus dan digabung menjadi satu golongan.

Perbedaan daya yang sangat kecil menjadi dasar penyederhanaan sehingga penentuan tarif lebih efisien. Jika kebijakan ini dieksekusi, TDL PLN untuk kategori rumah tangga (R-1) 900 VA nonsubsidi akan mengalami kenaikan. Saat ini, besaran tarif kategori ini hanya sebesar Rp 1.352 per kWh.

Rencana Kementerian ESDM menyatukan golongan tarif dasar listrik (TDL) PLN mendapat kritik keras dari netizen Indonesia. Salah satu yang menjadi kritik netizen adalah persoalan Abonemen dan penggunaan yang rendah.

“Ini apa? Jd nanti listrik cuma golongan 4.400 VA dan 13.200 VA? Abodemennya gimana? Yg pakenya gak sampe 4.400, hrs bayar abodemen golongan 4.400? Coba tlg jelaskan @pln_123 @IgnasiusJonan ! cc: @jokowi” kicau akun @Reiza_Patters.

Netizen juga meyakini bahwa kebijakan tersebut bertujuan untuk menaikkan tarif dasar listrik.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM Dadan Kusdiana menjelaskan, rencana pemerintah ini tidak berkaitan dengan penurunan ataupun penurunan tarif tenaga listrik (TTL).

“Rencana ini juga tidak akan mengurangi hak masyakarat kurang mampu yang mendapatkan subsidi listrik untuk pelanggan 450 VA dan sebagian 900 VA,” ujar Dadan.

Dia menjelaskan, jika penghapusan keempat golongan itu dilakukan, para pelanggan juga bisa leluasa untuk memilih, apakah akan meningkatkan daya atau tidak. Mereka pun tidak harus khawatir terbebani tarif yang lebih mahal ketika harus menambah daya.

Dadan kemudian menjelaskan, negara memang perlu meningkatkan konsumsi listrik per kapita. Salah satu faktor negara maju ditinjau dari sisi konsumsi listrik. Saat ini, konsumsi listrik Indonesia per kapita berada pada kisaran 900 kWh per tahun. Sedangkan negara maju rata-rata 4.000 kWh per kapita per tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Send this to friend