Netizen Tuding Pilkada Penyebab Kenaikan Harga Beras

Foto: Ilustrasi

Kenaikan harga beras yang terjadi pada Januari ini ditanggapi Menteri Pertanian Amran Sulaiman dengan prediksi produksi beras yang surplus. Menurutnya, pada Februari nanti akan mencapai puncak panen.

Amran mengatakan, pada Oktober telah memasuki musim hujan, sehingga pada Januari akan terjadi panen. “Oktober hujan berarti tanam kan, berarti Desember sudah panen, apalagi Januari. Kita tahu kalau kondisi cuaca normal, itu panen memasuki puncak Februari karena kondisi iklim normal,” kata Amran di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (11/1).

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik yang diperlihatkan oleh Kementan, luas tanam padi selama 2017 sebesar 16,4 juta hektare. Sementara, produksi padi pada Januari 2018, diprediksi mencapai 4,5 juta ton gabah kering giling (GKG). Sedangkan, ketersediaan beras mencapai 2,8 juta ton dengan konsumsi beras 2,5 ton, sehingga ketersediaan beras surplus sebesar 329, 3 ribu ton.

Ketika ditanya mengenai kondisi di lapangan bahwa saat ini harga beras naik, Amran hanya berkomentar mengenai produksi beras yang surplus. Produksi beras pada Januari 2018 diproyeksikan surplus sebesar 329,3 ribu ton.

Kenaikan harga beras memicu pertanyaan netizen. Apalagi Menteri Pertanian menyebutkan bahwa produksi beras surplus.

Netizen juga mencurigai bahwa kenaikan harga beras dipicu oleh pelaksanaan Pilkada serentak pada Juni 2018 mendatang.

Akun @morrecollata menyebutkan “Hukum Permintaan: Semakin banyak permintaan maka harga akan naik. Musim pilkada sdh tiba, beras habis diborong sama para timses buat pake nyogok calon pemilih.. makanya harga naik.” 

Pendapat serupa disampaikan oleh akun @athif_am. “Gak usah bingung pak harga naik mengikuti permintaan naik. Sekarang kan pilkada pak, kalau nggak dibeli ya ditimbun. Maaf pak agak suuzon hehe 😊”.

Diluar kecurigaan soal pilkada serentak, netizen lainnya meyakini bahwa kenaikan harga beras dipicu karena ulah spekulan.

Sebelumnya, berdasarkan data Kementerian Perdagangan, harga beras medium pada Juli 2017 berada di level Rp 10.574 per kilogram dan meningkat menjadi Rp 10.794 per kilogram pada November di tahun yang sama. Pada Januari 2018, angka ini merangkak naik menjadi Rp 11.041 per kilogram.

Sementara, Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan opsi impor harus diambil jika harga beras tidak juga turun dalam waktu dekat. Namun begitu, hingga kini pemerintah belum mengambil keputusan apakah akan mengambil langkah impor atau tidak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Send this to friend