Pengenaan Biaya Isi Ulang e-Money Akan Dikaji, Netizen Berkomentar

Pengenaan Biaya Isi Ulang e-Money Akan Dikaji, Netizen Berkomentar

Sumber foto: detik

Bank Indonesia kini masih melakukan kajian terhadap pengenaan biaya untuk isi ulang uang elektronik berbasis kartu atau e-money. Dikutip dari Detik, sejumlah bank mengaku sudah mengusulkan dan membicarakan berapa besaran biaya yang akan dikenakan.

Pengkajian pada pengenaan biaya isi ulang e-money ini pun ramai dikomentari oleh para pengguna media sosial twitter.

Salah satu pengguna twitter yang berkomentar adalah akun @ahrielad yang menyebut masyarakat akan kembali menggunakan uang cash apabila kebijakan ini diterapkan. “Pengen masyarakat sering gunakan transaksi elektronik, tapi mau top Up malah kena biaya. Balik Cash aja lagi dah.”

Berbeda dengan komentar akun @barryaje yang menyebut bahwa pihak perbankan di Indonesia sangat serakah. “Perbankan Indonesia serakah sekali, selama dlm saldo kartu itu uang mengendap, konsumen tdk dpt bunga. Apa msh kurang spread bunga yg ada?”

Ada juga pengguna twitter yang menyoroti langkah perbankan Indonesia ini karena dinilai selalau terus mencari keuntungan. “kok berlebihan ? kan bank penyelenggara pasti dapat untung dari penempatan dana tersebut, walau.hitungannya harian.” kicau akun @harry_harari.

Disisi lain, PT. BNI Tbk menilai bahwa pengenaan fee pada isi ulang e-money idealnya berada dikisaran Rp 1.500 hingga Rp 2.000 sekali isi ulang alias top-up.

Sementara itu, Direktur PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Sis Apik Wijayanto mengatakan saat ini BRI melalui kartu Brizzi memang belum mengenakan fee untuk isi ulang uang elektronik. Jumlah biaya akan diatur oleh BI. Karena itu mereka akan menunggu aturan dan tidak akan melebihi batas yang ditetapkan.

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) penerbit kartu Flazz mengungkapkan saat ini masih mempelajari besaran biaya yang akan dikenakan untuk pengisian ulang uang elektronik.

Berbeda dengan PT. Bank Mandiri yang mengaku hingga saat ini belum mengetahui berapa idealnya fee yang akan dikenakan untuk topup.

Mengutip data statistik sistem pembayaran uang elektronik BI, jumlah uang elektronik beredar per April 2017 tercatat 57,76 juta lebih tinggi dibandingkan periode Desember 2016 51,2 juta. Sedangkan untuk volume transaksi hingga April 2017 mencapai 235,61 juta transaksi. Periode akhir 2016 volume transaksi mencapai 683,133 juta transaksi.

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Send this to friend