Petani Garam Terancam Miskin Dihajar Impor, Netizen Minta 212 Mart Pasarkan Garam Lokal

garam lokal

(Sumber foto: nasional.in/FB Muslim 212 Mart)

Garam petani di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, tidak laku dijual setelah pemerintah mengimpor garam dari luar negeri, sehingga membuat mereka menjadi semakin merugi.

“Sudah sekitar seminggu, garam kami tumpuk, karena tidak ada yang mau membeli setelah adanya impor itu,” kata seorang petani asal Losari Kabupaten Cirebon, Tasnan di Cirebon, Selasa.

Tasnan yang juga berprofesi sebagi tengkulak itu mengaku ada sekitar 50 ton garam masih menumpuk, pedagang tidak mau membelinya karena sudah ada garam impor. Dia menjelaskan para pedagang mengaku takut, jika harus membeli garam karena dikhawatirkan harganya akan turun ketika sudah dibeli dan juga para pembeli beralasan harga saat ini belum stabil. “Mereka takut kalau beli sekarang nantinya harga tidak stabil, sehingga stok di gudang masih menumpuk,” ujarnya.

Dia mengatakan saat ini para petani garam sedang melakukan panen raya, namun dengan keadaan seperti sekarang mereka jelas tidak bisa menjual hasil panennya, karena para tengkulak takut akan merugi.

Sementara itu Ketua Asosiasi Pengusaha Garam Indonesia (APGI) Jabar, Cucu Sutara mengatakan menumpuknya stok garam di tingkat bawah, bukan karena tidak terserap, Namun datangnya garam impor, membuat para pembeli berpikir dua kali karena sewaktu-waktu harga bisa berubah. “Impor ini adalah keterpaksaan karena kemaren kapasitas kurang. Ini belum stabil, sedang tumbuh,” katanya.

Berikut pantauan redaksi eveline, mendapati komentar netizen di media sosial terkait petani garam terancam miskin dihajar impor. “jangan berpangku tangan, hubungi jaringan 212 MART, PETA dll untuk bantu pasarkan garam lokal, mereka punya jaringan ekonomi dan pasar dari dan untuk rakyat…”, dituliskan AP mencoba menyampaikan saran. Hal senada  juga disampaikan netizen bernama Wahyu Hariyanto, sebut sudah saatnya ekonomi islam bangkit, “Waktunya, ekonomi islam bangkit, olah sendiri pasarin sendiri sudah ada koprasi 212, dll, waktunya pribumi bangkit bukan bangkrut…”

Selanjutnya, bahkan  netizen bernama Anita Khan Chan menyarankan agar para petani mengolah dan memasarkan sendiri , “Jangan berdiam diri saja.. Jgn menyerah nasib, berusaha lah… Bungkus lah garam mu… Edar kan sendiri… Orang2 kampung menanti mu.. Kami mau beli garam petani sendiri”.  Bahkan netizen lain bernama Zahra Khalifatun Nisa menyebut rakyat lebih suka garam lokal daripada impor, “Nggak usah takut nggak laku pak jual saja langsung pd rakyat. Garam lokal lebih di sukai rakyat”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Send this to friend