Petani Singkong di Lampung Merugi, Netizen Menduga Ulah Mafia Import

lampung

(Sumber foto: petanitop.blogspot.com/ bintanginfo.com)

Penurunan harga singkong di tingkat pabrik, membuat petani singkong di Lampung  mengalami kerugian. Sebelumnya, Lampung sendiri dikenal sebagai daerah penghasil singkong utama di Indonesia, baik singkong mentah maupun tepung tapioka,  atau makanan jadi.

Kementerian Perdagangan diminta memperhatikan nasib petani singkong mengingat harga singkong saat ini anjlok sangat rendah berkisar Rp 500 per kilogram. “Harga singkong saat ini sangat rendah, antara Rp 450 sampai Rp 500 per kilogram,” kata Muhamad Roni, petani singkong di Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung, saat dihubungi di Desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar Sribhawono, Sabtu (1/10). Dikutip dari republika.co.id.

Dia mengatakan, harga singkong yang rendah telah berlangsung dalam beberapa bulan ini sehingga membuat para petani merugi. Roni menyatakan, harga singkong sebelumnya Rp 1.400 per kilogram. Menurut dia, dengan harga singkong Rp 500 per kilogram jika dihitung harga bersih yang diterima petani adalah Rp 200 per Kg.

Selain Roni, petani lain bernama Yakub juga mengalami hal yang sama, dia mengatakan penurunan harga tersebut sudah terjadi sejak dua bulan terakhir sehingga penyebabkan kerugian. “Hasil panen tidak sebanding dengan modal yang dikeluarkan petani. Seperti saya, tanam singkong 1 hektar dari upah nanam sampai panen menghabiskan biaya Rp7 jutaan. Pas mau panen harga anjlok. Jangankan mau memikirkan keuntungan, yang ada buntung, syukur-syukur pulang modal” terangnya kepada Saibumi.com, Jumat, 30 September 2016.

Untuk itu, Roni pun berharap pemerintah segera membantu para petani singkong di daerahnya sehingga dapat menikmati harga singkong yang layak. Pemerintah juga diharapkan tidak melakukan impor singkong atau tapioka karena stok singkong di daerah ini melimpah. “Harapan saya buat pemerintah jangan impor, buat apa impor kalau stok singkong di dalam negeri melimpah mengingat dampak impor membuat petani merugi karena stok jadi menumpuk,” kata Roni.

Sebelumnya, para petani singkong di Kabupaten Mesuji juga mengeluhkan harga komoditas itu yang makin merosot sehingga membuat petani makin terpuruk. Menurut dia, harga singkong tersebut merupakan harga pabrik dengan potongan 15-20 persen, sehingga harga yang bersih diterima petani paling besar Rp 300 per kilogram.

Semakin anjloknya harga singkong tidak sesuai dengan biaya tanam dan perawatan yang telah dikeluarkan petani. Keluhan anjloknya harga singkong itu juga disampaikan para petani singkong di Kabupaten Tulangbawang dan Lampung Tengah di Provinsi Lampung.

Pantauan redaksi eveline, mendapati  netizen ramai berkomentar soal petani singkong di Lampung merugi karena harga singkong anjlok. Berikut komentar netizen pada linimasa twitter. “ga ngerti dah..padahal Singkong banyak dibutuhkan utk bahan makanan manusia dan pangan ternak. Ulah mafia import?”, tulis akun @Ghost_157, menduga adanya ulah mafia import.

Hal senada juga datang dari netizen lain, yang sebut soal singkong import. “lho….bukannya sekarang ada SINGKONG import, kenapa susah2 nanam?”, kicau akun @hiswahattam nampak menyampaikan sindiran.

Sementara itu, seorang netizen lain nampak turut prihatin terhadap petani singkong Lampung, “hadewww kasian petani 🙁 pdhl sy beli dipasar 5000/kg !!! Kie py toh yaaa??”, tulis netizen dengan akun @indrierahman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Send this to friend