Siaga!! Indonesia Mulai Darurat Kekeringan Air

Siaga!! Indonesia Mulai Darurat Kekeringan Air

Foto: Ilustrasi

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, akan mengeluarkan status siaga darurat bencana kekeringan supaya dapat mengakses bantuan dalam mengatasi masalah kekeringan.

Kepala Seksi Logistik dan Kedaruratan BPBD Gunung Kidul Sutaryono, mengatakan berdasarkan analisis, evaluasi, pemetaan dan jumlah pengajuan permohonan air bersih ke BPBD setempat semakin tinggi.

“Kami akan segera mengeluarkan status siaga darurat bencana kekeringan supaya dapat mengakses bantuan ke BNPB. Saat ini, kami sedang mengajukan peningkatan status siaga darurat bencana kekeringan untuk diterbitkan SK Bupati,” katanya di Gunung Kidul, Jumat (8/9).

Ia mengatakan peningkatan status itu karena melihat data di lapangan yang menunjukkan kekeringan semakin meluas. BPBD mencatat ada 11 kecamatan yang mengalami kekeringan, delapan di antaranya sangat butuh bantuan air. Sedangkan tiga kecamatan lainnya memilih melakukan dropping air bersih secara mandiri. Delapan kecamatan dimaksud adalah Kecamatan Rongkop, Paliyan, Panggang, Girisubo, Purwosari, Tepus, Tanjungsari, dan Nglipar.

Sementara tiga kecamatan yang melakukan dropping air secara mendiri yakni Kecamatan Patuk, Ponjong, dan Ngawen. “Wilayah terdampak kekeringan di Gunung Kidul bisa saja bertambah sebab menurut BMKG Yogyakarta, musim penghujan di wilayah ini baru datang akhir Oktober,” katanya.

Sutaryono mengatakan sudah menyalurkan bantuan air bersih kurang lebih sebanyak 1.500 tangki. Bantuan tersebut disalurkan ke sekitar 137 ribu warga di delapan kecamatan. “Anggaran masih tersisa Rp 250 juta akan aman sampai musim hujan mendatang,” katanya.

Sementara itu, kekeringan rutin terjadi setiap tahun di Kabupaten Trenggalek, khususnya di Dusun Selorejo, Desa Mlinjon, Kecamatan Suruh. Warga harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan pokok tersebut hingga ke kawasan hutan.

Sukarni, salah seorang warga Selorejo menuturkan, pada tahun ini krisis air mulai terjadi sejak tiga bulan terakhir. Sumur-sumur warga yang ada di masing-masing rumah telah kering dan tak lagi mengeluarkan air.

Saat ini ia dan warga yang ada di lingkungan sekitar harus mencari pasokan air ke sumur-sumur yang ada di pinggir hutan. Itupun tidak bisa didapatkan dengan leluasa, warga harus bergiliran dan mengantre selama berjam-jam.

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Send this to friend