Netizen Bicara Ajakan Gus Mus Untuk Berefleksi Tentang Manusia, Kekuasaan dan Revolusi Mental

Gus Mus Bicara Tentang Manusia, Kekuasaan dan Revolusi Mental – sumber foto: Istimewa

Beberapa waktu belakangan ini publik tanah air banyak bicara tentang program Revolusi Mental yang digadang-gadang pemerintahan Presiden Joko Widodo. Salah satunya yang menyita perhatian publik adalah peluncuran website Revolusi Mental (www.revolusimental.go.id) oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani.

Website yang sedianya ditujukan sebagai media komunikasi publik tentang konsep, program dan implementasi Revolusi Mental dikritik berbagai pihak mulai dari soal alokasi anggaran ratusan milyar, tampilan yang menjiplak website milik Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama, hingga tidak bisa diakses publik lantaran overload pengunjung.

Kini kritik kembali berembus mengenai ketidakjelasan program Revolusi Mental ini dari seorang tokoh Islam terkemuka, sekaligus mantan Rais Aam Nahdlatul Ulama, KH. Mustofa Bisri. Menurut pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang ini, sebelum bicara mengenai Revolusi Mental, kita mustinya memahami terlebih dulu apa yang ingin dirubah sehingga membutuhkan adanya revolusi.

“Banyak yang mengatakan revolusi mental. Lalu apa yang sudah kita lakukan? Mestinya kita harus merevolusi mental seperti apa? Kalau mau berubah harus tahu dulu aslinya seperti apa,” ujar Gus Mus sebagaimana dikutip dari Tempo.co

Dalam acara dialog bertajuk Menjadi Orang Indonesia yang Beragama dan Berbudaya di Semarang, Kamis malam, 27 Agustus 2015 lalu, Gus Mus mulai dengan mengajak publik Indonesia untuk berefleksi mengenai apa makna menjadi manusia. Gus Mus menyebut masyarakat Indonesia harus mencoba mengenali dirinya dengan segala sisi-sisi kemanusiaannya sehingga mampu memanusiakan orang lain dan tidak menganggap dirinya sendiri yang paling benar.

Gus Mus juga menyindir para pemegang kekuasaan di negeri ini yang riuh berebut kursi kepemimpinan. Menurutnya, banyak orang yang sekarang ini berebut kekuasaan tetapi justru tidak tahu setelah berkuasa mau berbuat apa, sebab orang-orang seperti itu sebenarnya tidak memahami konsep kehidupan.

Kemudian, Gus Mus mencontohkan para pimpinan dan anggota DPR RI sebagai para pemegang kekuasaan yang semstinya berefleksi lebih dalam tentang apa tujuan berkuasa. Menurut Gus Mus, untuk bisa menjadi pemimpin sesungguhnya, para pemimpin di Indonesia harus belajar menjadi manusia. “Para pimpinan, petinggi, anggota DPR, MUI, dan semua yang diatas-atas harus jadi manusia. Jangan jadi harimau dan serigala.”

Bagaimana tanggapan publik, khususnya netizen Indonesia atas ajakan KH Mustofa Bisri, alias Gus Mus agar publik Indonesia berefleksi tentang makna menjadi manusia, kekuasaan dan revolusi mental? Simak pantauan redaksi Eveline berikut.

Pemantauan dilakukan terhadap perbincangan di media sosial, khususnya Twitter selama periode 27 – 29 Agustus 2015. Pemantauan dilakukan menggunakan platform Evello Intelligent Tagging System. Terdapat 1.863  tweet yang membicarakan tentang KH Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus ini. Mayoritas netizen menyatakan kesepemahamannya atas pernyataan Gus Mus terkait pentingnya berefleksi tentang makna menjadi manusia.

Netizen juga menyatakan setuju dengan kritik Gus Mus mengenai para pemimpin negeri ini yang kurang memahami arti dan tujuan memegang kekuasaan. Lewat 720  tweet, netizen mengulangi pernyataan pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang Jawa Tengah ini, bahwa para pemimpin atau pejabat harus berusaha menjadi manusia terlebih dahulu baru bisa menjadi pemimpin.

Sementara itu, terkait dengan revolusi mental, netizen juga menyatakan sepakat dengan pemikiran Gus Mus, bahwa revolusi mental tanpa didahului pemahanan apa makna menjadi manusia, apa yang harus diubah dan perubahan macam apa yang dibutuhkan hanya akan jadi khayalan semata. Hal ini dinyatakan netizen lewat 712  tweet.

***

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*