Netizen Indonesia Kecewa Cita-Cita Reformasi 98 Belum Terwujud

Peringatan 17 Tahun Reformasi 98 – sumber foto: Istimewa

Di hari ini, 17 tahun yang lalu, bangsa Indonesia menapaki sebuah fase baru dalam bernegara. Sebuah orde pemerintahan yang syarat represi, pelanggaran HAM dan pengekangan individu bubar. 21 Mei 1998 menjadi saksi pengunduran diri Presiden kedua Indonesia, Soeharto, dari tampuk kepemimpinan Republik Indonesia dan digantikan oleh BJ Habibie.

Lengsernya Presiden Soeharto tidak datang tiba-tiba. Tumpukan berbagai masalah ekonomi, sosial, budaya dan lain sebagainya selama lebih dari 32 tahun masa pemerintahannya mencapai titik nadir saat Indonesia dihempas badai krisis ekonomi asia pada 1996. Jatuhnya nilai tukar rupiah, utang yang membengkak, harga kebutuhan hidup meroket menjadikan masyarakat sangat resah. Ditambah praktek korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang semakin kental. Hanya tinggal menghitung waktu untuk keresahan ini meledak menjadi konflik sosial.

Tak kurang dari 1 tahun kemudian, di 12 Mei 1998 Tradei Trisakti meletus. Ratusan mahasiswa dan civitas akademika Universitas Trisakti yang melakukan long march menuju Gedung MPR/DPR dihadang aparat gabungan TNI/Polri yang berujung pada tewasnya 4 orang mahasiswa dan puluhan lainnya luka-luka. Sehari kemudian, kerusuhan sosial meledak di Jakarta, Medan dan Surakarta.

Demonstrasi berlangsung hampir setiap hari. Semua menyuarakan satu tuntutan, Soeharto mundur sebagai Presiden. Puncaknya, gabungan berbagai elemen mahasiswa berhasil menduduki Gedung MPR/DPR yang saat itu dijaga ketat aparat. Publik sudah cemas akan terjadi peristiwa layaknya insiden Tiananmen di mana pemerintah Orde Baru akan menggunakan kekuatan militer untuk mengambil alih Gedung MPR/DPR.

Namun, Presiden Soeharto, di luar dugaan, justru mengumumkan pengunduran diri dan menyerahkan tampuk kekuasaan kepada Wakil Presiden BJ Habibie. Sebuah momen yang mencetak era baru bagi bangsa Indonesia, yang kita kenal sebagai Era Reformasi.

Bagaimana publik, khususnya netizen Indonesia menanggapi peristiwa 17 tahun lalu ini? Apakah mereka masih ingat dengan momen bersejarah itu? Simak rangkuman redaksi Eveline berikut ini.

Pemantauan dilakukan terhadap perbincangan di media sosial, khususnya Twitter selama periode 21 Mei 2015, di mana terdapat total 17.266 tweet bicara tentang peringatan Reformasi 1998. Sebanyak 9.992 tweet menyebut pengunduran diri Soeharto sebagai momen paling penting dalam runtutan peristiwa reformasi ini. Sementara, sebanyak 947 tweet dicuitkan netizen mengenang pengorbanan para mahasiswa yang tewas atau terluka saat memperjuangkan gerakan reformasi 98.

Namun, tak sedikit dari netizen yang kecewa, bahwa Reformasi 98 belum berhasil merubah Indonesia menjadi seperti apa yang dicita-citakan para pejuangnya. Sebanyak 1.776 bahkan menyebut reformasi telah mati. Di mana cita-cita reformasi akan kebebasan dan kesejahteraan adalah semu belaka. Sebanyak 958 tweet menyatakan kekecewaan ini.

Bagaimana dengan Anda?

***

Loading...

One thought on “Netizen Indonesia Kecewa Cita-Cita Reformasi 98 Belum Terwujud

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *