Rusuh di Tolikara, Pembicaraan Peran GIDI Menguat di Media Sosial

Penyebab utama pembakaran masjid dan kios di Tolikara, Papua, diduga salah satunya adalah adanya surat edaran dari Gereja Injil Di Indonesia (GIDI) yang isinya dinilai tidak mendukung kebebasan beragama. (baca : Ramai Jadi Perbincangan di Medsos, Netizen Sebut Sinode GIDI Bertanggung Jawab Pembakaran Masjid Tolikara). Dalam surat edaran itu, terdapat 3 poin yakni GIDI tidak mengizinkan adanya perayaan lebaran di Tolikara, perayaan lebaran bisa dilakukan di luar Tolikara dan larangan perempuan muslim menggunakan jilbab.

Juru bicara Persatuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII) menuturkan bahwa GIDI yang merupakan gereja yang menjadi anggota dari PGLII memang secara resmi mengeluarkan surat tersebut. Surat itu ditandatangani oleh Ketua GIDI Wilayah Toli Pdt Nayus Wenda dan Sekretaris GIDI Pdt Marthen Jingga.

Yang pasti, PGLII tidak sepakat dan mengecam surat edaran yang dikeluarkan GIDI tersebut. Untuk itu, tentunya lebih baik bila ada tindaklanjut untuk memeriksa bagaimana peristiwa itu terjadi. Dikutip dari Tempo Staf Khusus Presiden Lenis Kogoya menyesalkan adanya warga Tolikara yang menyelenggarakan kongres pemuda Sinode Gereja Injili di Indonesia (GDI) tanpa terlebih dahulu meminta izin dari lembaga adat, Kepolisian, dan pemerintah daerah. Lenis menilai langkah ini menjadi penyebab bentrok Tolikara yang terjadi kemarin.

Pantauan redaksi Eveline terhadap kerusuhan yang terjadi di Tolikara ramai dibicarakan di media sosial, khususnya twitter. Pemantauan yang dilakukan menggunkan platform Evello Intelligent Tagging System periode  18 hingga 19 Juli 2015 menemukan perbincangan tentang peran GIDI dibalik kerusuhan yang trjadi di Tolikara, menuai 26.065 tweet.

Sementara itu, sebanyak 5.651 tweet memperbincangkan mengenai surat edaran yang diterbitkan oleh Badan Pekerja Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) Wilayah Toli Nomor 90/SP/GIDI-WT/VII/2015 yang ditandatangani Ketua Badan Pekerja Wilayah Toli, Pendeta Nayus Wenda dan Sekretaris, Pendeta Marthen Jingga, dikeluarkan tanggal 11 Juli 2015.

Surat edaran yang diterbitkan oleh GIDI, disinyalir menjadi pemicu kerusuhan yang terjadi di Tolikara pada Jum’at (17/7) lalu, menuai polemik di kalangan masyarakat. Karena banyak yang menanyakan tentang keaslian surat edaran tersebut yang isinya sangat keliru. Namun Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tolikara, Yusak Mauri membenarkan adanya surat pemberitahuan. Lewat 1.893 tweet netizen Indonesia menyatakan bahwa surat edaran itu bukan hoax melainkan asli diterbitkan oleh pihak GIDI.

Pihak Kepolisian menegaskan bahwa akan menyelidiki pelaku penyebaran surat edaran kontroversial, yang berakibat penyerangan terhadap umat Muslim yang sedang melaksanakan sholat id dan pembakaran 54 rumah kios serta sebuah mushala. Sebanyak 1.229 tweet memberi dukungan kepada polisi agar pelaku segera diproses hukum. Netizen juga menyebut bahwa pelaku penyerangan masjid dan kaum muslim di Tolikara adalah teroris yang sengaja dilakukan untuk memecah kerukunan umat beragama di Papua. Hal ini disebut netizen sebanyak 886 tweet.

***

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Send this to friend