Kasus Penyelewengan Dana Beasiswa Yayasan Supersemar Ramai Diperbincangkan Netizen Indonesia

MK Menghukum Mantan Presiden Soeharto dan Yayasan Supersemar – sumber foto: Istimewa

Mahkamah Agung , pada Sabtu 8 Juli 2015 kemarin, mengabulkan permohonan Peninjauan Kembali (PK) yang diajukan Kejaksaan Agung terhadap perkara penyimpangan dana beasiswa Yayasan Supersemar. Dalam amar keputusannya, MA memerintahkan tergugat, mantan Presiden Soeharto, yang juga pendiri Yayasan Supersemar, membayar ganti rugi kepada negara sebesar US$ 315 juta dan Rp 139,2 miliar atau setara Rp 4,3 triliun jika dihitung dengan kurs rupiah terhadap dolar Amerika saat ini yang mencapai Rp 13.500.

Juru bicara Mahkamah Agung Suhadi membenarkan keputusan ini, sebagaimana dikutip dari Tempo.co, “Putusan sudah diketuk pada 8 Juli kemarin, dengan demikian pihak tergugat harus membayar ganti rugi yang sudah ditetapkan.”

Kasus ini sendiri bermula paska lengsernya Presiden Soeharto. Di tahun 2008, Kejaksaan Agung menggugat Soeharto dan Yayasan Supersemar atas dugaan penyelewengan dana beasiswa Yayasan Supersemar yang semestinya diperuntukkan siswa dan mahasiswa justru diberikan kepada beberapa perusahaan, antara lain PT Bank Duta 420 juta dollar AS, PT Sempati Air Rp 13,173 miliar, serta PT Kiani Lestari dan Kiani Sakti Rp 150 miliar.

Dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 27 Maret 2008, majelis hakim memutus Yayasan Supersemar bersalah menyelewengkan dana. Putusan ini kemudian dikuatkan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. Keputusan ini kemudian diperkuat kembali di tahun 2009 dimana Mahkamah Agung menghukum  Yayasan Supersemar untuk membayar kepada negara sebesar 75 persen dari US$ 420 ribu yaitu US$ 315 dan 75 persen dari Rp 185 miliar yaitu Rp 139 miliar.

Namun entah bagaimana, terjadi salah ketik dalam amar keputusan tersebut, sehingga denda yang semestinya 185 milyar hanya ditulis Rp 185 juta saja. Inilah yang menjadi alasan mengapa Kejaksaan Agung akhirnya mengajukan PK yang berujung pada penetapan keputusan sidang 8 Juli 2015 kemarin.

Bagaimana tanggapan publik, khususnya netizen Indonesia atas putusan MA yang mengabulkan PK Kejaksaan Agung dan menghukum denda 4,3 trilyun rupiah kepada mantan Presiden Soeharto dan Yayasan Supersemar? Simak pantauan redaksi Eveline berikut.

Pemantauan dilakukan terhadap perbincangan di media sosial, khususnya Twitter selama periode 10 – 11 Agustus 2015. Pemantauan dilakukan menggunakan platform Evello Intelligent Tagging System. Terdapat 2.120 tweet membicarakan tentang putusan MA yang mewajibkan keluarga mantan Presiden Soeharto membayar denda kerugian negara sebesar 4,3 trilyun rupiah.

Netizen menyebut, perkara yang menjerat keluarga mantan orang nomor satu di tanah air selama lebih dari tiga dekade ini berujung pada penyelewengan penggunaan dana beasiswa Yayasan Supersemar. Penyelewengan ini yang kemudian merugikan negara dalam jumlah yang sangat besar. Hal ini dibicarakan netizen lewat 854 tweet.

Terkait dengan putusan MA tersebut, netizen menyebut bahwa eksekusi ganti rugi akan ditanggung oleh Yayasan Supersemar. Menurut netizen hal ini sudah sepantasnya dilakukan karena selama berpuluh tahun yayasan ini mengumpulkan dana dari publik namun akhirnya justru diselewengkan. Ini dinyatakan sebanyak 523 tweet oleh netizen Indonesia.

Sementara itu, netizen banyak yang menyatakan rasa penasaran terkait reaksi keluarga mantan Presiden Soeharto terhadap amar keputusan MA ini. Lewat 627 tweet, netizen banyak bertanya, terutama kepada putra termuda Soeharto, Hutomo Mandala Putra atau yang akrab disapa Tommy Soeharto. Tommy selama ini memang rajin berkicau tentang berbagai hal di media sosial Twitter melalui akun pribadinya @Tommy_Soeharto1.

***

Loading...

One thought on “Kasus Penyelewengan Dana Beasiswa Yayasan Supersemar Ramai Diperbincangkan Netizen Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Send this to friend