Soal Panglima TNI Sebut Demo-demo Jangan Langsung Dicap Radikal, Netizen: Negara Demokrasi!

Radikal

(Sumber foto:  akun twitter @tropongsenayan/@BersamaDakwah)

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menyoal cap radikal terhadap orang yang ingin menyampaikan pendapat di muka umum. Hal itu disampaikan Gatot di sela-sela Rapim TNI, di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (17/01).

“Jadi kalau demo-demo jangan langsung dicap itu adalah radikal, itu adalah menyampaikan pendapat. Tidak masalah. Kalau bersikap radikal, itu beda,” kata Panglima TNI.

Untuk itu, Gatot menyebutkan TNI berkomitmen menghadapi semua Ormas yang bertentangan dengan Pancasila, dan radikalisme yang dapat mengganggu pembangunan nasional. “TNI berkomitmen mendukung program pemerintah dan sepakat menghadapi semua Ormas yang bertentangan dengan Pancasila dan radikalisme yang mengganggu jalannya pembangunan nasional,” katanya.

Dalam Rapim ini, sejumlah kementerian ikut memberikan arahan, petunjuk agar semua dapat berjalan lancar dan TNI dapat membantu program-program pemerintah baik di pusat maupun di daerah. Panglima TNI juga mengatakan, saat ini sedang mendalami adanya gerakan organisasi kemasyarakatan (ormas) yang tidak sepaham dan tidak sejalan dengan ideologi Pancasila.

Untuk menghadapi Ormas yang bertentangan dengan Pancasila, Gatot sudah memerintahkan seluruh Pangdam di seluruh Indonesia membantu kepolisian guna mengatasi Ormas yang bertentangan dengan Pancasila. “Pangdam dan kepolisian bekerja sama dalam mendukung semuanya. TNI membantu Polri. membantunya dengan cara TNI baik dari intelijen, pasukan, teritorial dan lain-lain,” ujarnya.

Untuk diketahui, massa Front Pembela Islam (FPI) sebelumnya sempat melakukan aksi unjuk rasa di Mabes Polri untuk menuntut Kapolri segera mencopot Kapolda Jawa Barat. Aksi itu terbukti berjalan damai dan lancar.

Di sisi lain, terkait jalannya aksi demo FPI di Mabes Polri itu, sempat menyisakan cerita mengharukan antara TNI dan peserta aksi dari kalangan santri. Sejumlah anggota TNI membagikan nasi kotak kepada para santri usai demo 161.

Video anggota TNI membagikan nasi kotak kepada para santri diunggah oleh akun facebook Munir Badres. “Kejadian setelah aksi bela islam 161. Kejadian tak terduga yg dilakukan oleh tentara terhadap santri. Masyaallah,” tulis Munir Badres.

Video itu diambil di tempat parkir. Beberapa mobil TNI tampak parkir di sebuah halaman perkantoran. Anggota TNI lantas membabagikan nasi kotak kepada para santri. Diduga, nasi kotak tersebut merupakan jatah anggota TNI yang sedang tugas. “Ini dari tentara. Tentara berbagi, terima kasih pak ya. Terima kasih tentara,” ujar pria yang merekam aksi tersebut.

Berikut ini video anggota TNI membagikan nasi kotak kepada santri peserta aksi 161:

Pantauan redaksi eveline, mendapati netizen berkomentar soal Panglima TNI sebut demo jangan langsung di cap radikal. Seorang netizen pada linimasa twitter tegaskan bahwa Negara Indonesia adalah Negara demokrasi. “Mahasiswa Demo dibilang Nganggur Umat Islam Demo dibilang Radikal Aktifis Diskusi dianggap Makar Negara Demokrasi??!”. Tulis akun @viraagustinaa.

Selanjutnya, seorang netizen nampak memperjelas maksud Panglima TNI bahwa cap radikalisme dimaksud, dipastikan bukan menunjuk pada aksi demo 161 kemarin. “Radikal (Radix) itu dasar/pondasi/akar, ga ada yg salah, hrsnya Radikalisme akan beda makna, media abal2 tulisan y abal2”, dikicaukan akun @teguh_priyo.

Lebih jauh, beberapa netizen juga terlihat sampaikan dukungan pada TNI, “panglima terbaik sejak era reformasi”, tulis akun @mustofamuchdhor. Sedang akun @f_13_n, sebut  TNI dekat dengan rakyat, “mantaff bukti tni lahir dr rakyat u rakyat”.

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Send this to friend